ASUHAN KEPERAWATAN PHYLENEFRITIS
LAPORAN
PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN
PHYELONEFRITIS
I.
KONSEP
MEDIS
1.
DEFENISI
Phylonefritis merupakan infeksi bakteri
pada piala (pielum) ginjal, tubulus, dan jaringan interstisil dari salah satu
atau kedua ginjal. Pielonefritis sering sebagai akibat dari refles
ureterovesikel, dimana katup ureterovesikel yang tidak komponen menyebabkan
urin mengalir balik (refluks) kedalam
ureter. Obstruksi saluran perkemihan meningkatkan kerentanan ginjal terhadap
infeksi. Pielonefritis dapat berlangsung secara akut dan kronis (Suharyo, 2009)
Pielonefritis merupakan infeksi bakteri
yang menyerang ginjal, yang sifatnya akut maupun kronis. Pielonefriti akut
biasanya akan berlangsung selama I sampai 2 minggu bila pengobatan pada
pielonefritis akut tidak sukses maka dapat akan menimbulkan gejala lanjut
disebut pienefritis kronis. Pielonefritis merupakan infeksi bakteri pada piala
ginjal, tumulus, dan jaringan intestinal dari salah satu kedua ginjal (Haryono, 2013).
Pieonefritis akut adalah reaksi
inflamasi akibat infeksi yang terjadi pada pielum dan parenkin ginjal (Prabowo, 2014). Pielonefritis
akut, yakni infeksi saluran kemih bagian atas (UTI), merupakan infeksi bakteri
pada pelvis, tubulus dan jaringan interstinal pada salah satu atau kedua
ginjal.(C.Smeltzer, n.d.). sedangkan pielonefritis
kronis merupakan gejala pielonefritis akut berulang bias berlanjut menjadi
pielonefritis kronis. Komplikasi pielonefritis kronis mencakup penyakit ginjal
stadium akhir (mulai dan kehilangan massa nefron sekunder sampai inflamasi
kronis dan pebentukan jaringan parut), hypertensi dan pembentukan batu ginjal
(akibat infeksi kronis organism pemecah urea)(C.Smeltzer, n.d.)
Urinary tract infections (UTIs)
represent one of the most common pathological conditions in children. It is
estimated that even in the countries with the most advandced health care
programmers, such as the United States and Europe, UTIs represent the most
common serious infections in pediatrics.(Dawkins, Fletcher, Rattray, & Reid, 2012)
2.
ETIOLOGI
Escherichia coli (bakteri yang dalam
keadaan normal ditemukan diusus besar) merupakan penyebab dari 90% infeksi
ginjal di rumah sakit dan penyebab dari 50% infeksi ginjal di rumah sakit.
Infeksi basanya berasal dari daerah kelamin yang naik ke kandung kemih.
Pada saluran kemih yang sehat, naiknya
infeksi ini biasanya bisa dicegah oleh aliran air kemih yang akan membersihkan
organism dan oleh penutupan ureter ditempat masuknya kandung kemih.
Berbagai penyumbatan fisik pada aliran
air kemih (misalnya batu ginjal atau pembesaran prostat) atau arus balik air
kemih dari kandung kemih kedalam ureter,akan meningkatkan kemungkinanterjadinya
infeksi ginjal infeksi juga bias juga dibawa ke ginjal dari bagian tubuh lannya
melalui aliran darah.(C.Smeltzer, n.d.)
Etiolgi dari pielonefritis adalah
bakteri. Bakteri mencapai kandung kemih melalui uretra dan naik ke ginjal.
Meskipun ginjal menerima 20-25% curah jantung, bakteri jarang mencapai ginjal
melalui darah (hematogen). Kasus penyebaran hematogen kurang dari 3%.(Suharyo, 2009)
Mikroorganisme
penyebab utama dari pielonefritis adalah E. Coli akan tetapi Kowalak Dkk(2011) mengidentifikasikan beberapa microorganism yang juga ikut
berperan dalam pielonefritis. Microorganisme tersebut adalah klebsiella
proteus, pseudomonas staphylocococus aureus dan enterococus faecallis.(Prabowo, 2014)
3.
PATOFISIOLOGIS
Masuk kedalam pelvis ginjal dan terjadi
imflamasi .inflamasi ini menyebabkan pembengkakan daerah tersebut, dimulai dari
papilla dan menyebar kedaerah korteks. Infeksi terjadi setelah terjadinya
cystitis, prostatitis (ascending) atau karena infeksi steptococus yang berasal
dari darah (descending). Pielonefritis dibagi menjadi dua yaitu akut dan
kronik.
Pielonefritis akut biasanya singkat dan
sering terjadi infeksi berulang tetapi tidak sempurna atau infeksi baru. Sebesar
20% dari infeksi yang berulang terjadi setelah terjadi dua minggu setelah
terapi selesai. Infeksi bakteri dan saluran kemih bagian bawah kearah ginjal,
hal ini akan memengaruhi fungsi ginjal. Infeksi saluran urinarius atau
dikaitkan dengan selimut. Abses dapat dijumpai pada kapsul ginjal dan pada
tauts kortikomedularis. Pada akhirny, artrofi dan kerusakan tubulus serta
glumerolus terjadi.
Pyelonefritis kronik juga berasal dari
adanya bakteri, tetapi dapat juga karena factor lainnya seperti obstuksi
saluran kemih dan refluk urin. Pyenefritis dapat merusak jaringan gnjal secara
permanen akibat inflames yang berulang kali dan timbulnya parut dan dapat
menyebababkan terjadinya renal failure (gagal ginjal) yang kronik. Ginjalpun
membentuk jaringan parut progresif, berkontraksi dan tidak berfungsi. Proses
perkembangan ked=gagalan ginjal kronis dari infeksi ginjal yang berulang-ulang
berlangsung beberapa tahun atau setelah infeksi yang gawat. Pembagian
pyelonefrtis akut sering ditemukan pada wanita hamil, biasanya diawali dengan
hydroureter dan pyelonefrotis akibat obstruksi reter karena uterus yang
membesar.(Haryono, 2013)
Secara khas infeksi menyebar dari
kandung kemih kedalam ureter, kemudian keginjal seperti terjadi pada refluk
vesikoureter. Refluks vesika ureten dapat terjadi karena kelemaha congenital
pada tempat pertemuan (junction) ureter dan kandung kemih. Bakteri yang
mengalir balik kejaringan intrarenal dapat menimbulkan koloni infeksi infeksi
dalam tempo 24 hingga 48 jam. Infeksi dapat pula terjadi karena instrumentasi
(seperti tindakan kateterisasi, sistoscopy,atau bedah urologi) karena infeksi
hematogen(seperti septicemia atau endokarditis) atau mugkin juga Karen ainfeksi
limfatik phylonefritis juga bias terjadi karena ketidak mampuan mengosongkan
kandng kemih (misalnya pada pasien dengan neurugenik bladder), stasis urin atau
obstruksi urin akibat tumor, striktur, atau hypertropia prostat benigna
Bakteri naik ke hinjal dan pelvis
ginjal melalui saluran kandung kemih dan uretra
ploranormal fektal seperti
eschericia coli streptococcus fekalis, pseudomonas aeruginosa, dan
stphylococus aureus adalah bakteri paling umum yang menyebabkan pyelonefritis
akut. E.coli menyebabkan sekitar 85% infeksi.
Pada pyelonefritis akut nflamsi
menyebabakan infamasi gijal yang tidak lazim. Kortek dan medulla mengembang dan
multiple abses. Kalik dan pelvis ginjal juga akan berinfousi. Resolusi dari
inflamasi menghasilkan fibrosis dan scarring pyelonefritis kronis unul setelah
priode berulang dari pyelonefritis akut ginjal mengalami perubahan degenerative
dan menjadi kecil serta artrophic. Jika destruksi nefron meluas, dapat
berkembang ,enjadi gagal gnjal.(Prabowo, 2014)
4.
MANIFESTASI
KLINIS
Pyelonefritis dapat di manifestasikan
sebagai demam tinggi, sampai dengan menggigil, nyeri pada daerah costovertebra
menjalar keperut, malaise. Selain tanda dan gejala tersebut biasanya didahului
keluhan urgensi dan frekwensi,disuria, rasa panas seperti terbakar waktu
berkemih, urin tampak keruh dan berbau menyengat. (Prabowo, 2014)
Manifestasi klinis Pielonefritis akut (C.Smeltzer, n.d.)
·
Menggigil, demam,
leukositosis, bakteriuria dan piuuria
·
Nyeri punggung bawah,
nyeri pinggang, mual dan muntah, sakit kepala, malaise, dan nyeri pada saat
berkemih adalah gejala yang sering diremukan.
·
Nyeri dan nyeri tekan
pada area sudut kostrovertebral.
·
Gejala pada saluran
kemih bawah seperti urgensi berkemih atau sering berkemih, sering dikeluhkan.
Manifestasi
klinis pielonefritis kronis (C.Smeltzer, n.d.)
·
Psien biasanya tidak
menunjukkan gejala infeksi kecuali jika terjadi eksaserbasi akut.
·
Keletihan, sakit kepala,
dan nafsu makan menurun
·
Poliurea, sensasi
harus berlebihan, dan kehilangan berat badan mungkin terjadi.
·
Infeksi persistem dan
berulang lambat laun dapat menyebabkan pembentukkan jaringan parut yang
mengarah ke gagal ginjal.
5.
PEMERIKSAAN
PENUNJANG
1. Urinalisis
a. Leukosuria
atau piuria: merupakan salah satu petunjuk penting adanya ISK (Infeksi Saluran
Kemih). Leukosuria positif bila terdapat lebih dari 5 leukosit atau lapang
pandang besar sediment air kemih.
b. Hematuria
: hematurian positif bila terdapat 5 sampai 10 eritrosit atau lapang pandang
besar (LPB) sediment air kemih. Hematuria disebabkan oleh berbagai keadaan
patologis baik berupa kerusakan glomerulus ataupun urolitiasis.
2. Bakteriologis
a. Mikroskopis
; satu bakteri lapangan minyak emersi. 102-103 organisme koliform/Ml urin plus
pluria
b. Biakan
bakteri
c. Tes
kimiawi; tes reduksi griess nitrate berupa perubahan warna pada uji carik.
3. Kultur
urin untuk mengidentifikasi adanya organism spesifik.
4. Hitung
koloni;hitung koloni sekitar 100.000 koloni per milliliter urin dari urin
tamping aliran tengah atau dari specimen dalam kateter dianggap sebagai
criteria utama adanya infeksi.
5. Metode
tes
a. Tes
dipstick multistrip untuk WBC (tes esterase leukosit) dan nitrit (tes Griess
untuk pengurangan nitrat)
b. Tes
esterase leukosit positif ; maka pasien mengalami pluria.
c. Tes
pengurangan nitrat, griess positif jika terdapat bakteri yang mengurangi nitrat
urin normal menjadi nitrit.
6. Penyakit
menular seksual (PMS) uretritia akut akibat organism menular secara seksual
(misalnya klamida trakomatis, neisseria gonorrhea,herpes simplek)
7. Tes-tes
tambahan:
a. Urogram
intravena (IVU)
b. Pielografi
(IVP), sistografi, dan ultrasonografi juga dapat dilakukan untuk menentukan
apakah infeksi akibat dari abnormalitas traktus urinarius, adanya batu, massa renal
atau abses, hidronefrosis atau hyperplasia prostate.
c. Urogram
IV atau evaluasi ultrasonic, sistoskopi dan prosedur.urodinamik dapat dilakukan
untuk mengidentifikasi penyebab kambuhnya infeksi yang resisten.(Haryono, 2013)
Pengkajian
dan pengkajian diagnostic (C.Smeltzer, n.d.) ;
·
Ultrasound atau
pemindahan CT
·
Pielogram IV bias di
indikasikan pielonefritis jika diduga terdapat kelainan fungsi dan struktur
ginjal.
·
Kultur urin dan uji
sensitifitas
·
Pencitraan
radionuklida dengan gallium jikapemeriksaan lain tidak konklusif .
6.
KOMPLIKASI
Ada
tiga komplikasi penting yang dapat ditemukan pada pielonefritis akut (Haryono, 2013) yaitu
:
1. Nekrosis
papilla ginjal
Sebagai hasil proses
radang, pasokan darah pada area medulla akan terganggu dan akan diikut nekrosis
papila ginjal, terutama pada penderita diabetes mellitus atau pada tempat
terjadinya obstruksi.
2. Fionefrosis
Terjadi apabila
ditemukan obstruksi total ureter yang dekat dengan ginjal. Cairan yang
dilindungi dalam pelvis dan system kaliks mengalami supurasi sehingga ginjal
mengalami peregangan akibat adanya pus.
3. Abses
perinefrik
Pada waktu infeksi
mencapai kapsula ginjal, dan meluas kedalam jaringan perirenal, terjadi abses
perinefrik.
Kompilkasi
Pielonefritis Kronis (Haryono, 2013), mencakup
penyakit ginjal stadium akhir (mulai dari hilangnya progresivitas nefron akibat
inflamasi kronik dan jaringan parut), hipertensi, dan pembentukkan batu ginjal
(akibat infeksi kronis disertai organisme pengurai urea, yang mengakibatkan
terbentuknya batu) (Brunner dan Suddarth, 2002:1437).
7.
PENATALAKSANAAN
a. Penatalksanaan
pyelonefritis akut (C.Smeltzer, n.d.)
Secara
medis
·
Untuk pasien rawat
jalan pemberian paket antibiotic 2 minggu direkomendasikan ; biasanya,agens
yang diresepkan sebagian merupakan obat yang sama yang diresepkan untuk
menangani infeksi saluran kemih
·
Ibu hamil dapat
dirawat di rumah sakit selama 2-3 hari untuk mendapat terapi antibiotic
parenteral. Antibiotic oral dapat di resepkan setelah pasien tidak lagi demam
atau tidak mennjukan perbaikan klinis
·
Setelah regimen
antibiotic pertama diberikan pasien mungkin memerlukan terapi antibiotic selama
6 minggu jika terjadi relaps. Kultur urin lanjutan dilakukan 2 minggu setelah
terpi antibiotic selesai untuk memastikan bahwa infeksi telah teratasi.
·
Hydrasi dengan cairan
oral atau parenteral merupakan langkah esensial untuk semua pasien dengan
infksi saluran kemih apabila fungsi ginjal masih adekuat
Secara
Keperawatan
·
Rencana asuhan untuk
kondisi ini sama seperti rencana untuk infeksi saluran kemih (UTI)
b. Penatalksanaan
pyelonefritis kronis
Medis
·
Pengunaaan terapi anti
mikroba profilaksis dalam jangka waktu
yang lama bias membantu membatasi kekambuhan infeksi dan pembentukan jaringan
parut pada ginjal. Kerusakan fungsi ginjal mengganggu ekskresi agens anti
microba sehingga fungsi ginjal perlu dipantau dengan seksama, terutama jika
medikasi berpotensi toksisi pada ginjal.
Keperawatan
Rencana
asuhan hamper sama dengan infeksi saluran kemih atas ;
·
Jika pasien dirawat di
rumah sakit anjurkan untuk mengonsumsi cairan (3-4 l/hari) kecuali jika di
kontraindikasikan
·
Pantau dan catat
asupan dan haluaran
·
Kaji suhu tubuh setiap
4 jam dan berikan agen antipiretik dab antibiotic seperti yang di resepkan.
·
Ajarkan tentang
tindakan preventif dan cara pengenalan dini gejala.
·
Tekankan pentingnya
menjalani terapi medikasi antimikroba dengan tepat sepert yang di resepkan dan
perlu memenuhi jadwal lanjutan.
II. KONSEP KEPERAWATAN
A.
PENGKAJIAN
(Prabowo, 2014)
a.
Identitas
Anak wanita dan wanita dewasa mempunyai
insidensinfeksi saluran kemih yang lebih tinggi di bandingkan dengan pria. Hal
ini dikarenakan posisi anatomis dari uretra wanita serta secara anatomis uretra
wanita lebih pendek .(hal.62)
b.
Riwayat
kesehatan
Keluhan utama: biasanya pasien datang
dengan keluhan nyeri punggung di bawah
dan disuria
·
Riwayat
penyakit sekarang
masuknya bakteri kandung kemih sehinggah menyebabkan infeksi
~
P : penyebab nyeri pada konstovetebra akibat respon
peradangan pada pileum dan parenkim ginjal
~
Q : kualitas nyeri
seperti tertusuk-tusuk
~
R : area nyeri pada panggul, nyeri tekan pada sudut
kostovertebra, nyeri di daerah perut dan pinggang
~
S
:
Skala nyeri bervariasi pada rentang sedang sampai berat
~
T : Nyeri dimulai
bersamaan dengan timbulnya demam
·
Riwayat
penyakit dahulu
pada pielonetfrits kronis, kemungkinan
merupakan berkelanjutan dari pielonefritis akut
·
Riwayat
penyakit keluarga
ISK bukanlah
penyakit yng bisa diturunka melalui genetic.
c.
Pola
funsi kesehatan
·
Pola persepsi dan
pemeliharaan kesehatan: pada wanita terutama karena kurangnya pemeliharaan
kesehatan atau prilaku yang salah dalam hygiene sesuai berkemih atau buang air
besar:
·
Pola istrahat dan
tidur : istrahat dan tidur pasien mengalami gangguan karena gelisah dan nyeri.
·
Pola eliminasi : pasien cenderung mengalami mengalami disuria
dan sering kencing. Pada stadium lanjut pasien bisa mengalami oliguria sampai
dengan anuria.
·
Pola aktivitas : aktivitas pasien mengalami gangguan karena
rasa nyeri yang kadang datang.
d. Pemeriksaan fisik
Vital
sign/Tanda-tanda vtal :
Tekanan Darah : Meningkat yang merupakan dampak dari edema
Nadi :
Normal/Meningkat
Respirasi : Normal/Meningkat
Temperature : Meningkat dampak dari proses inflamasi
Pemeriksaan fisik
·
Inspeksi : Frekwensi miksi bertambah, lemah dan
lesu, urin keruh
·
Palpasi : Suhu tubuh meningkat dan teraba
pembesaran pada ginjal
·
Perkusi : Adanya nyeri ketuk pada area costovertebrata
(Hal.63)
e. Pemeriksaan penunjang
·
Labaroratorium (Darah)
Jenis
Pemeriksaan
|
Hasil
|
Batas Normal
|
Keterangan
|
HB
|
-
|
12-16 Mg/dL
|
Normal/Meningkat
|
UREA
|
>50 Mg/dL
|
10-50 Mg/dL
|
Meningkat
|
CREATININ
|
>1,2 Mg/dL
|
L :0,7-1,3
P : 0,6-1,1 Mg/dL
|
Meningkat
|
K
|
-
|
3,4-6,4 Mg/dL
|
Normal/Meningkat
|
NA
|
-
|
136-155 mmol/dL
|
Normal/Meningkat
|
CI
|
-
|
95-100 mmol/dL
|
Normal/Meningkat
|
URIC ACID
|
>7Mg/dL
|
3,4-7 Mg/dL
|
Meningkat
|
(Sumber
: Praktik di Lahan/Rumah Sakit)
f. Analisa Data
Dx
|
Data
( Berdasarkan
Data Yang Lazim Muncul )
|
Etiologi
|
Masalah
|
Pyelonefritis Akut
|
|||
I
|
·
Vital sign TD, Nadi
dan suhu umumnya diatas normal
·
Skala nyeri bervariasi pada rentang sedang sampai berat
·
Nyeri punggung
bawah, nyeri pinggang, mual dan muntah, sakit kepala, malaise, dan nyeri pada
saat berkemih adalah gejala yang sering diremukan.
·
Nyeri dan nyeri
tekan pada area sudut kostrovertebral.
|
Inflamasi ginjal
(disebabkan
oleh bakteri yang masuk seperti E.Coli)
Nyeri
|
Nyeri
|
II
|
·
Menggigil, demam,
leukositosis, bakteriuria dan piuuria
|
Inflamasi ginjal
Hypertermi
|
Hypertermi
|
III
|
·
Pasiem umumnya
mengeluh ingin berkemih namun
pengeluaran urin sedikit/kurang dari biasanya
·
Gejala pada saluran
kemih bawah seperti urgensi berkemih atau sering berkemih, sering dikeluhkan.
|
Ketidakmampuan mengosongkan kandung
kemih
(terjadi
karena adanya inflamasi pada organ upper perkemihan)
Gangguan eliminasi
urin
|
Gangguan
Eliminasi Urin
|
IV
|
·
Umumnya pasien
mengalami dysuria atau sering minum
·
Gejala pada saluran
kemih bawah seperti urgensi berkemih atau sering berkemih, sering dikeluhkan.
|
Inflamasi
Kelebihan
Volume cairan
|
Kelebihan
Volume cairan
|
B.
DIAGNOSA
KEPERAWATAN (Prabowo, 2014)
1. Nyeri
2. Hypertermia
3. Gangguan
eliminasi urin
4. Kelebihan
volume cairan.
C.
KRITERIA
HASIL (Nurarif, 2015)
1. Nyeri
akut b/d agen cedera ( mis: biologis, zat kimia, fisik,psikologis
NOC:
·
Paint level
·
Pain control
·
Confort level
Kriterian
Hasil :
1. Mampu
mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri, mampu menggunakan tehnik non farmakologi
untuk mengurangi nyeri, mencari bantuan)
2. Melaporkan
bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan managemen nyeri
3. Mampu
mengenali nyeri (skala, frekwensi dan tanda nyeri)
4. Menyatakan
rasa nyaman setelah nyeri berkurang
2. Hypertermi
b/d penyakit (reaksi inflamasi sistemik pyelonefritis)
NOC
:
·
Thermoregulation
Kriterian
Hasil :
1. Suhu
tubuh dalam rentang normal
2. Tidak
ada perubahan warna kulit dan tidak ada pusing
3. Gangguan
eliminasi urin b/d obstruksi anatomic, penyebab multiple, gangguan sensori
motorik,infeksi saluran kemih
NOC
:
·
Urinary elimination
·
Urinary continuence
Kriterian
Hasil :
1. Kandung
kemih kosong secara penuh
2. Tidak
ada residu urin >100-200 cc
3. Intake
cairan dalam rentang normal
4. Bebas
dari ISK
5. Balance
cairan seimbang
4. Kelebihan
volume cairan b/d perubahan mekanisme regulasi, peningkatan permealibilitas
dinding glomerolus
NOC
:
·
Flid balance
·
Hydration
Kriterian
Hasil :
1. Terbebas
dari eudema efusi
2. Menjelaskan
indicator kelebihan cairan
D.
INTERVENSI
(Nurarif, 2015)
1. Nyeri
akut b/d agen cedera ( mis: biologis, zat kimia, fisik,psikologis)
Intervensi
:
Pain managemen
·
Lakukan pengkajian
nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan factor
presipitasi
·
Observasi reaksi
nonverbal dari ketidaknyamanan terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri
pasien
·
Kaji kultur yang
memepengaruhi respon nyeri
·
Evaluasi pengalaman
nyeri asa lampau
·
Evaluasi bersama
pasien dan tim kesehatan lain tentang keefektifan control rasa nyeri masa
lampau
·
Bantu klien dan
keluarga untuk mencari dan menemukan dukungan
·
Control factor
lingkungan yang mempengaruhi nyri seperti ,suhu ruangan,pencahayaan dan
kebisingan
·
Kurangi factor
presipitasi nyeri
·
Pilih dan lakukan
penanganan nyeri (frmakologi,
nonfarmakologi dan interpersonal )
·
Kaji tipe dan sumber
nyeri untuk menenetuka intervensi
·
Ajarkan tentang tehnik
nonfarmakologi ( bio feeback,
TENS,hipnotis, relaksasi, distraksi dan lain-lain)
·
Berikan analgenik
untuk mengurangi nyeri
·
Rencanakan penggunaam
PCA
·
Evaluasi keefektifan
control nyeri
·
Tingkatkan istrahat
·
Kolaborasikan dengan
dokter jika ada complain dan tindakan nyeri tidak berhasil
·
Monitor penerimaan
pasien tentang manajemen nyeri
(hal.70)
Analgetic
administration
·
Tentukan lokasi,
karakteristik, kualitas dan derajat nyeri sebelum pemberian obat
·
Cek instruksi dokter
tentang jenis obat, dosis dan frekwensi
·
Cek riwayat alergi
·
Pilih analtic yang
diperlukan atau kombinasi dari analgetic ketika pemberian lebih dari satu
·
Tentukan pilihan
alangetic tergantung tipe dan beratnya nyeri
·
Tentukan analgetic
pilihan, rute pemberian, dan dosis optimal
·
Pilih rute pemberian
secara IV, IM untuk engobatan nyeri secara teratur
·
Monitor vita sign
sebelum dan sesudah pemberian analgetic pertama kali
·
Berikan analgetic
tepat waktu terutam saat nyeri hebat
·
Evaluasi efektifitas
analgetic, tanda dan gejala
2. Hypertermia
b/d penyakit (reaksi inflamasi sistemik pyelonefritis)
Intervensi
:
Fever treatment
·
Monitor suhu sesering
mungkin
·
Monitor IWL
·
Monitor warna dan suhu
kulit
·
Monitor tekanan darah,
nadi dan RR
·
Monitor WBC, Hb, dan
Hct
·
Monitor intake dan
output
·
Beri antipiretik
·
Kolaborasi pemberian
cairan intravena
·
Kompres pasien pada
lipat paha dan aksila
Temperatur regulation
·
Monitor suhu minimal
tiap 2 jam
·
Rencanakan monitoring
suhu secara continue
·
Monitor Tekanan darah,
Nadi, dan RR
·
Monitor warna dan suhu
kulit
·
Monitor tanda-tanda
hipertermi dan hipotermi
·
Tingkatkan intake cairan
dan nutrisi ‘
·
selimuti pasien untuk
mencegah hilangnya kehangatan tubuh
·
beri antipiretik bila
perlu’
Vital sign monitoring
·
monitor TD, Nadi, suhu
dan RR
·
catat adanya fluktuasi
tekanan darah
·
monitor suhu dan
kelembapan kulit
·
identifikasi penyebab dari
perubahan vital sign.
3. Gangguan
eliminasi urin b/d obstruksi anatomic, penyebab multiple, gangguan sensori
motorik,infeksi saluran kemih
Intervensi
:
Urinary retention care
·
Lakukan penilaian
kemih yang komperehensif berfokus pada inkontinensia (misalnya output urin,
pola berkemih, fungsi kognitif, dan masalah kencing praeksistem)
·
Membantu penggunaan
obat antikoligenik atau property alpha agonis
·
Monitor efek dari
obat-obatan yeng diresepkan seperti calcium channel blocked dan antikoligenik
·
Masukan kateter kemih,
sesuai
·
Anjurkan
pasien/keluarga untuk merekam output urin,sesuai
·
Memantau tingkat
distensi kandung kemih dengan palpasi dan perkusi
4. Kelebihan
volume cairan b/d perubahan mekanisme regulasi, peningkatan permealibilitas
dinding glomerolus
Intervensi
:
Fluid management
·
Perhatikan catatan
intake dan output yang akurat
·
pasang urin kateter ‘
·
monitor hasil Hb yang
sesuai dengan retensi
·
monitor vital sign
·
monitor indikasi
retensi/kelebihan cairan (CVP, edema, distensi vena leher, asites)
·
kaji lokasi dan luas
edema
·
monitor ststus nutrisi
·
kolaborasi pemberian
antidiuretik sesuai instruksi
·
batasi masukan cairan
pada keadaan hiponatrermi dilusi dengan serum Na<130 mEq/I
·
kolaborasi dokter jika tanda cairan berlebih muncul
memburuk
Fluid monitoring
·
tentukan riwayat jumlah
dan tipe intake cairan dan eliminasi
·
tentukan kemungkinan
factor resiko dari ketidak seimbangan cairan
·
monitor serum dan
osmilalitas urin
·
catat secara akurat
intake dan output
·
monitor tanda dan
gejala odema
.
E.
EVALUASI
Menurut
(Prabowo, 2014)
Pada tahap ini yang
perlu dievaluasi pada klien dengan pyelonefritis adalah mengacu pada tujuan
yang telah hendak dicapai yakni apakah terdapat :
1. Nyeri
yang menetap atau bertambah
2. Kebutuhan
rasa nyaman terpengaruhi
3. Pola
berkemih berubah, berkemih sering dan sedikit-sedikit, perasaan ingin berkemih,
menetes setelah berkemih.
4. Kultur
urin menunjukan tidak ada bakteri
5. Perubahan
warna urin
6. Mengerti
tentang kondisi pemeriksaan diagnostic,rencana pengobatan, tindakan perawatan
diri preventif
Menurut
(Nurarif, 2015)
1. Nyeri
akut b/d agen cedera ( mis: biologis, zat kimia, fisik,psikologis)
Evaluasi
:
~
Mampu mengontrol nyeri
(tahu penyebab nyeri, mampu menggunakan tehnik non farmakologi untuk mengurangi
nyeri, mencari bantuan)
~
Melaporkan bahwa nyeri
berkurang dengan menggunakan managemen nyeri
~
Mampu mengenali nyeri
(skala, frekwensi dan tanda nyeri)
~
Menyatakan rasa nyaman
setelah nyeri berkurang
2. Hypertermia
b/d penyakit (reaksi inflamasi sistemik pyelonefritis)
Evaluasi
:
~
Suhu tubuh dalam
rentang normal
~
Tidak ada perubahan
warna kulit dan tidak ada pusing
3. Gangguan
eliminasi urin b/d obstruksi anatomic, penyebab multiple, gangguan sensori
motorik,infeksi saluran kemih
Evaluasi
:
~
Kandung kemih kosong
secara penuh
~
Tidak ada residu urin
>100-200 cc
~
Intake cairan
dalam rentang normal
~
Bebas dari ISK
~
Balance cairan
seimbang
4. Kelebihan
volume cairan b/d perubahan mekanisme regulasi, peningkatan permealibilitas
dinding glomerolus.
Evaluasi
:
~
Terbebas dari eudema
efusi
~
Menjelaskan indicator
kelebihan cairan
PENYIMPANGAN KDM (Prabowo, 2014)
https://drive.google.com/file/d/0B8t8Y4TAsUf_ekIzVEV4ZE9OZUE/view?usp=sharing
https://drive.google.com/file/d/0B8t8Y4TAsUf_ekIzVEV4ZE9OZUE/view?usp=sharing
III. PENUTUP
A. KESIMPULAN
Pielonefritis
merupakan infeksi bakteri yang menyerang ginjal, yang sifatnya akut maupun
kronis. Pielonefriti akut biasanya akan berlangsung selama I sampai 2 minggu
bila pengobatan pada pielonefritis akut tidak sukses maka dapat akan
menimbulkan gejala lanjut disebut pienefritis kronis. Pielonefritis merupakan
infeksi bakteri pada piala ginjal, tumulus, dan jaringan intestinal dari salah
satu kedua ginjal
B.
SARAN
Untuk
mahasiswa agar dapat memahasi tentang pyelonefritis agar dapat melakukan asuhan
DAFTAR PUSTAKA
C.Smeltzer, S. (n.d.). keperawatan medikal bedah. (D.
Yulianti, Ed.) (12th ed.). Penerbit buku kedokteran EGC.
Dawkins, J. C., Fletcher, H. M., Rattray, C. A., & Reid,
M. (2012). Acute Pyelonephritis in Pregnancy : A Retrospective Descriptive
Hospital Based-Study, 2012, 1–7. https://doi.org/10.5402/2012/519321
Haryono, R. (2013). keperawatan medikal bedah sistem perkemihan.
(D. Hardjono, Ed.) (1st ed.). yogyakarta: Rapha Publishing.
Nurarif, A. H. (2015). Aplikas iAsuhan keperawatan
Berdasarkan Diagnosa Medis dan Nanda NIC-NOC. (Yudha, Ed.) (Revisi).
Jogjakarta: MediAction.
Prabowo, E. (2014). Asuhan Keperawatan Sistem Perkemihan.
(J. Budi, Ed.). yogyakarta: Nuha Medika. Retrieved from www.nuhamedika.gu.ma
Suharyo, T. (2009). Asuhan keperawatan pada klien dengan
gangguan sistem perkemihan. (Agung wijaya, Ed.). jakarta: CV Trans Indo
Media. Retrieved from penerbit_tim@yahoo.com
Komentar
Posting Komentar